BAB 7 MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Pertanyaan:
1. Sebutkan 5 unsur lingkungan perkotaan?
Jawab:
- Unsur lingkungan perkotaan
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang membentuk stuktur kota tersebut. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan setidaknya mengandung 5 unsur yang meliputi :
- Wisma : unsur ini merupakan bagian ruang kota yang dipergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan sosial dalam keluarga. Unsure wisma ini menghadapkan
- dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan pertambahan kebutuhan penduduk untu masa mendatang
- memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai standar mutu kehidpan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang aman dan menyenangkan
- Karya : unsure ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsure ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
- Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dengan tempat lainnya didalam kota, serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
- Suka : unsure ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan dan kesenian
- Penyempurna : unsure ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup ke dalam keempat unsur termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, fasiltias keagamaan, perkuburan kota dan jaringan utilitas kota.
2. Sebutkan fungsi external kota?
Fungsi external kota
Fungsi eksternal kota:
· Pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintahan wilayah tertentu
· Pusat dan orientasi kehidupan social budaya suatu wilayah lebih luas
· Pusat dan wadah kegiatan ekonomi ekspor :
1. Produksi barang dan jasa
2. Terminal dan distribusi barang dan jasa.
· Simpul komunikasi regional/global
· Satuan fisik-infrastruktural yang terkail dengan arus regional/global.
Sumber:
STUDY KASUS:
Jakarta, Bandung, Surabaya Sudah Tak Nyaman Huni
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menilai, kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya saat ini tidak nyaman dihuni. Ketiga kota ini memiliki tingkat kepadatan penduduk sangat tinggi, serta tata ruang kota dan sarana transportasi yang buruk.
Diperkirakan di kawasan Asia akan terjadi ledakan penduduk di perkotaan sekitar 62 persen, dengan pertambahan penduduk di kota besar naik sekitar 55 persen.
-- Suharso Monoarfa
"Setiap kota di Indonesia harusnya mengantisipasi batas ambang (carrying capacity) penduduk yang ada agar lebih nyaman dihuni oleh masyarakat. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya sudah terlalu padat," kata Suharso dalam sambutannya pada seminar nasional Habitat 2011 "Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Responsif Terhadap Perubahan Iklim" di Jakarta, Rabu (5/10/2011).
Suharso mengatakan, kepadatan kota serta kekhawatiran terjadinya ledakan penduduk di kota-kota besar merupakan masalah yang akan selalu dihadapi setiap kota didunia. Untuk mengantisipasi hal ini, diperlukan suatu satuan kawasan wilayah (SKW) dengan perencanaan matang, agar bisa digunakan untuk mencegah semrawutnya penataan sebuah kota di masa mendatang.
"Diperkirakan di kawasan Asia akan terjadi ledakan penduduk di perkotaan sekitar 62 persen, dengan pertambahan penduduk di kota besar naik sekitar 55 persen. Apabila kota-kota di Indonesia tidak melakukan antisipasi sejak dini, maka yang terjadi kota-kota besar akan semakin padat lagi,” ujarnya.
Salah satu kunci untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Suharso, setiap penguasa atau kepala daerah harus memiliki pengetahuan cukup mengenai tata ruang serta teknologi, agar masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan yang ada. Jangan sampai penguasa kota dan para pemangku kepentingan, khususnya di sektor perumahan dan kawasan permukiman, mementingkan kepentingannya sendiri dengan melakukan kompromi dalam setiap perijinan pembangunan.
"Jika hal ini diselesaikan segera, maka saya yakin 10 tahun mendatang isu mengenai kepadatan dan kesemrawutan kota di Indonesia tidak akan terulang lagi," katanya.
OPINI:
Perkotaan jaman sekarang ini sudah tidak lagi nyaman dihuni. Banyak kendaraan-kendaraan besar yang lalu lalang dan mengeluarkan polusi yang sangat buruk untuk tubuh manusia. Masalah utama dari kota itu sendiri adalah kepadatan penduduknya. Banyak orang-orang yang berasal dari desa yang mengira bahwa dikota banyak lapangan pekerjaan, tapi itu semua hanya isu belaka. Mereka yang kurang beruntung akhirnya hanya mengnggur atau menjadi pekerja kasar saja seperti pengemis dan pengamen yang hanya menambah kepadataan kota.

0 komentar:
Posting Komentar